Kamis, 15 Juni 2017

EFEK ANTIDIARE EKSTRAK DAUN BELUNTAS (Pluchea Indica L) DAN PENGARUH PERTUMBUHAN BAKTERI Escherichia Coli
ATIDIARRHEAL EFFECTS OF BELUNTAS (Pluchea Indica L) LEAF EXTRACT AND BACTERIAL GROWTH EFFECT

Meida Rizky Hidayati
Jl. Kelapa Sawit 8 Bumi Berkat
Sungai Besar Banjarbaru Kalimantan Selatan
Abstrak
            Diare merupakan suatu penyakit infeksi usus yang ditandai dengan kondisi rangsangan buang air besar yang terus menerus disertai keluarnya feses atau tinja yang kelebihan cairan. Pengobatan dengan cara tradisional atau alternative herbal lebih baik karena jarang menimbulkan efek samping. Daun beluntas adalah salah satu cara tanaman herbal yang digunakan sebagai antidiare. Karena sudah teridentifikasi kandungan senyawa kimia yaitu fenol, tanin, alkaloid, steroid, dan minyak atsiri serta antibakteri penyebab diare. Bakteri tersebut antara lain seperti Escherichia Coli, Staphylococcus sp, Propionobacterium sp dan Corynebacterium. Maka dalam tulisan ini akan dibahas tentang efektivitas ekstrak daun beluntas sebagai antidiare.

Kata kunci: Beluntas (Pluchea Indica L), Antidiare dan Escherichia Coli

Abstract
Diarrhea is an intestinal infectious disease characterized by persistent bowel excitatory conditions accompanied by the release of excess fluid feces or stools. Treatment with traditional or alternative herbs is better because it seldom cause side effects. Beluntas leaf is one way herbs used as antidiarrhea. Because it has been identified the chemical compounds of phenol, tannin, alkaloids, steroids, essential oils and antibacterial causes of diarrhea. Bacteria such as Escherichia coli, Staphylococcus sp, Propionobacterium sp and Corynebacterium. Then in this paper will be discussed about effectiveness of beluntas leaf extract as antidiarrheal.

Keywords: Beluntas (Pluchea Indica L), Antidiare and Escherichia Coli

I.       Pendahuluan
A.    Latar Belakang
Di era globalisasi banyak penyakit yang sering dihadapi dan harus di tangani oleh berbagai pihak. Macam – macam jenis penyakit mulai dari yang mematikan sampai yang tidak mematikan dapat menginveksi tubuh. Penyakit tersebut bisa disebabkan oleh virus, bakteri, parasit, dan lain sebagainya di muka bumi. Penyakit yang disebabkan oleh virus contohnya seperti virus yang menyebabkan influenza atau penyakit lainnya. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri yaitu pada bakteri Escherichia Coli yang dapat menyebabkan diare.
Karena permasalahan atas penyakit yang ada tersebut, maka dilakukan penemuan obat untuk mengatasinya. Salah satunya adalah pada penyakit diare yang ternyata dapat disembuhkan dengan ekstrak daun beluntas. Daun beluntas merupakan tanaman herbal yang sering dijadikan sebagai pagar tanaman. Beluntas merupakan sejenis tumbuhan semak yang dapat dijadikan sebagai jamu atau ramuan karena dapat menghilangkan bau badan dan menghilangkan pegal linu. Sebagian orang menggunakannya sebagai santapan sayuran atau bahan pangan yang direbus. Tanaman beluntas dapat tumbuh di berbagai daerah sehingga memiliki berbagai macam nama seperti luntas (Jawa),  beluntas (Madura), dan lain sebagainya.
Daun beluntas memiliki kandungan senyawa seperti alkaloid, zat besi, tanin, dan lain sebagainya. Senyawa alkaloid terdapat pada hampir setiap tumbuhan. Senyawa tersebut berfungsi sebagai pelindung terhadap musuh seagai racun. Saat menyantap tanaman yang mengandung senyawa alkaloid, dapat memberikan rasa pahit dan seperti, yaitu saat menyantap daun beluntas. Cara menjadikan daun beluntas sebagai obat, yaitu dengan meminum air rebusan daunnya. Daun tersebut dapat menyembuhkan beberapa penyakit seperti batuk, panas, luka, serta diare.
Diare merupakan penyakit yang sering menyerang khususnya anak – anak. Diare adalah penyakit yang ditandai dengan terdapatnya kandungan air pada feces yang menyebabkan encer. Diare ini dapat disebabkan oleh bakteri seperti Escherichia Coli (bakteri), virus, parasite, kelainan pada usus (faktor tubuh), serta faktor lingkungan. Penyakit ini dapat menyebabkan kematian jika berlangsung lama. Kematian yang disebabkan oleh diare sering terjadi pada anak – anak, karena kekurangan gizi. Seseorang yang terkena diare akan mengeluarkan feces dengan interval waktu yang relatif pendek atau singkat.
Daun beluntas yang memiliki efek antibakteri dan antimikroba dapat membunuh mikroba yang menyebabkan diare. Menurut Menkes (2011) konsentrasi hambat minimal adalah kadar konsentrasi terendah antimikroba yang mampu menghambat tumbuh dan berkembangnya bakteri atau tidak menunjukkan adanya pertumbuhan koloni bakteri pada medianya. Menurut Hairunisa (2015) pada penelitiannya didapatkan kesimpulan pada pemberian ekstrak daun beluntas menyebabkan terhambatnya pertumbuhan Escherichia Coli adalah 50 %.
B.     Rumusan Masalah
Sesuai dengan pemaparan yang ada di latar belakang tersebut, didapatkan rumusan masalah:
1.      Bagaimanakah pengaruh pemberian ekstrak daun beluntas terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia Coli ?
2.      Bagaimana antidiare pada ekstrak daun beluntas?

C.    Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan ini dilakukan adalah untuk membahas tentang efek antidiare dari ekstrak daun beluntas terhadap diare yang disebabkan oleh bakteri Escerichia Coli.


  


BAB II
ISI

2.1 Pluchea Indica L (Beluntas)

            Beluntas (Pluchea Indica Less.) merupakan salah satu jenis tanaman Indonesia yang biasa digunakan sebagai tanaman pagar dan tanaman obat. Beluntas merupakan tanaman obat asli Indonesia yang daunnya dapat digunakan sebagai obat dernam (diaforetikum) dengan cara direbus seperti teh dan juga dapat digunakan untuk memperkuat urat syaraf dan sebagai obat mandi. Hal ini disebabkan beluntas mengandung amino (leusin, isoleusin, triptofan, treonin), alkaloid, flavonoida, minyak atsiri, asam chlorogenik, natrium, kalium, aluminium, kalsium, magnesium, fosfor, besi, vitamin Adan C.Tanaman beluntas (Pluchea indica Less.) merupakan salah satu tanaman yang pemanfaatannya belum digali secara maksimal.

Deskripsi Tanaman Beluntas
  
Sering dijumpai pada lingkungan yakni tanaman beluntas. Tanaman beluntas adalah tanaman semak yang berkayu. Tanaman beluntas atau luntas ini hidup di segala tempat. Bahasa latin beluntas adalah Pluchea indica L. Less. Sedangkan dalam bahasa inggris tanaman beluntas ini mempunyai nama Marsh fleabane. Ciri-ciri dan karakteristik beluntas ini mempunyai daun yang bergerigi, agak kasar dan mempunyai harum yang khas. Fungsi beluntas bagi sebagian orang digunakan untuk pagar beluntas di depan rumah, campuran bahan makanan untuk pengolahan beluntas ini digunakan pada makanan seperti keripik beluntas, sayur beluntas, botok beluntas dan lain-lain. Kegunaan beluntas ini tidak hanya untuk itu saja namun tanaman beluntas ini bisa di gunakan untuk obat herbal. Herbal beluntas tersebut digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit yang ada di tubuh.

Klasifikasi Tanaman Beluntas

Kingdom       : Plantae (Tumbuhan)
Super Divisi   : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi             : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas              : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas      : Asteridae
Ordo              : Asterales
Famili             : Asteraceae
Genus            : Pluchea
Spesies           : Pluchea indica (L.) Less.

Anatomi dan Morfologi Tanaman Beluntas

Tanaman beluntas merupakan tanaman semak perdu kecil, tumbuh tegak, dengan tinggi dapat mencapai 2 m. Batang beluntas berambut halus. Daun beluntas berbentuk bulat telur, hijau muda, panjang daunnya dapat mencapai 2 - 9 cm, dengan struktur daun ujung lancip, letak berseling, berbau khas. Bunga beluntas ini majemuk, bentuknya malai, keluar dari ketiak daun, bercabang-cabang, berwarna putih kekuningan. Buah beluntas kecil, keras, berwarna coklat, dengan warna biji coklat keputih - putihan.  Habitat beluntas hidup pada daerah dataran rendah dan dataran tinggi dengan ketinggian 1000 meter dari permukaan laut, dan dengan syarat pada daerah kering dengan tanah yang agak keras dan berbatu,   dengan intensitas cahaya matahari yang cukup dan sedikit naungan Budidaya beluntas dengan cara perbanyakan dengan biji dan stek.

            Tanaman beluntas atau dalam bahasa latin Pluceae Indica L. merupakan tanaman yang dapat tumbuh di keadaan kering dengan tanah yang keras dan berbatu. Tanaman ini tumbuh dapat mencapai 3 meter. Di beberapa daerah, tanaman ini memiliki bermacam – macam sebutan, seperti Baruntas (Sunda), Luntas (Jawa), Baluntas (Madura), Lamutasa (Makassar) dan Lenabou (Timor). Di daerah asing di sebut dengan Luan Yi (China) dan Phatpai (Vietnam) dan Marsh Fleabane (Inggris).

Sejauh ini tanaman obat tradisional telah lama digunakan pada manusia, tetapi pemanfaatan tanaman obat tradisional pada hewan belum seluas dan sepopuler penggunaannya pada manusia. Tanaman obat tradisional dapat berfungsi sebagai feed aditif alami untuk memperbaiki tampilan produksi ternak, mencegah serangan penyakit dan mengurangi dampak lingkungan. Menurut Hariana (2006) menyatakan bahwa di dalam daun beluntas (Pluchea indica less) mengandung beberapa kandungan kimia yaitu alkaloid, minyak atsiri, dan flavonoid. Menurut Ayu (2012) dalam penelitiannya pemberian ekstrak daun beluntas mempengaruhi penurunan jumlah koloni bakteri Escherichia coli dari konsentrasi 0% sampai konsentrasi 50% diduga karena bakteri Escherichia coli sudah mulai terganggu hidupnya akibat pemberian ekstrak daun beluntas. Bakteri Escherichia coli diduga mengalami stress akibat perubahan lingkungan yang merugikan bagi kehidupan bakteri.
Menurut beberapa para ahli yang telah meneliti bahwa beluntas ini mempengaruhi pertumbuhan Escherichia Coli dan K. Pneumonia. Daun beluntas diketahui dapat digunakan sebagai obat berbagai penyakit karena senyawa fitokimia yang ada di dalamnya. Dari hasil penelitian yang lainnya juga telah menunjukkan kalau dengan menggunakan beluntas untuk dijadikan sebagai terapi alami untuk mengobati penyakit infeksi saluran kemih. Pada daun tanaman beluntas memiliki kandungan kimia dalam tanaman ini adalah minyak atsiri, Alkaloid, Flavonoida, Tanin, Asam Chlorogenik, Natrium, Aluminum, Kalsium, Magnesium, dan Fosfor. Sesuai dalam kandungan pada daunnya, maka tanaman ini memili manfaat antara lain:
1.      Minyak Atsiri yang tergandung merupakan penghambat pertumbuhan bakteri yang menyebabkan karies pada gigi.
2.      Alkaloid merupakan senyawa yang paling banyak di temukan pada tanaman khususnya daun. Senyawa ini membantu tanaman untuk melindungi dirinya (racun) sehingga memberikan rasa pahit dan asam. Senyawa ini dalam jumlah yang tepat, digunakan sebagai mengatasi gangguan pencernaan pada anak – anak.
3.      Flavonoida merupakan senyawa yang mudah larut dalam air dan sebagai antimikroba juga antivirus atau antioksidan.
4.      Tanin merupakan senyawa yang berperan dalam pendenaturasi protein serta mencegah proses pencernaan bakteri. Senyawa ini juga dapat mengatasi masalah darah tinggi karena dapat sebagai pengkhelat logam (zat besi) dalam darah.

2.2 Antidiare
Diare merupakan suatu kondisi ditandai dengan keluarnya feses secara abnormal dalam interval waktu yang sangat singkat (biasanya 3 kali sehari). Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti, infeksi bakteri (Campylobacter dan Escherichia coli), infeksi virus (rotavirus, Norwalk virus, cytomegalovirus, herpes simplex virus, and virus hepatitis), intoleransi makanan, parasite (Giardia lamblia), reaksi atau efek samping obat, gangguan intestinal, dan kelainan fungsi usus besar. Kehilangan cairan atau elektrolit (ion Na+ dan K+) pada diare yang parah menyebabkan penderita mengalami dehidrasi yang menyebabkan kematian pada kasus ini.

Jenis diare

Berdasarkan lama kejadian diare dibedakan 2 jenis diare yang menentukan obat antidiare yang akan digunakan.
1.      Diare akut
Awalnya, fases yang keluar cair terjadi diikuti lemas, adanya gas, nyeri, seringkali demam dan muntah. Umumnya diare akut reda/hilang dalam 72 jam. Penyebabnya oleh infeksi bakteri seperti E.Coli, Shigella, Salmonella, virus dan amuba seperti E. Histolytica. Dapat pula disebabkan oleh toksin bakteri seperti staphylococcus aureus, dan Clostridium welchii yang mencemari makanan.

2.      Diare kronik
Keluarnya fases yang tidak berbentuk, sering atau berulang dan biasanya disebabkan multifaktor. berkaitan dengan berbagai gangguan dengan berbagai gangguan gastrointestinal, ada pula diare yang berlatar belakang psikosomatik, alergi oleh makanan atau obat-obat tertentu, disamping itu diare kronis ini dapat disebabkan oleh kelainan pada sistem endokrin dan metabolisme, kekurangan vitamin dan sebagai akibat radiasi.

Mekanisme timbulnya diare

Saat mikroba atau parasit masuk kedalam tubuh, maka akan terjadi keracunan. Yang menyebabkan diare dan muntah, disebabkan oleh pangan dan air yang terkontaminasi oleh mikroba. Secara klinis, istilah diare digunakan untuk menjelaskan terjadinya peningkatan likuiditas tinja yang dihubungkan dengan peningkatan berat atau volume tinja dan frekuensinya.
Beberapa patogen menstimulasi sekresi dari fluida dan elektrolit, seringkali dengan melibatkan enterotoksin yang akan menurunkan absorpsi garam dan air dan/atau meningkatkan sekresi anion aktif. Pada kondisi diare ini tidak terjadi gap osmotic dan diarenya tidak berhubungan dengan isi.

Penggolongan Obat Anti Diare

1.      Kemoterapeutika; untuk terapi kausal yakni memberantas bakteri penyebab diare, cont: antibiotika, sulfonamida, dan senyawa kinolon
2.      Obstipansia; untuk terapi simtomatis yang menghentikan diare dengan beberapa cara yaitu:
a.       zat-zat penekan perilstatik; akan memperlambat gerakan perilstatik pada usus sehingga memberikan lebih banyak waktu untuk resorpsi air & elektrolit pada mukosa usus, cont: Loperamida (derivat petidin), Atropin, Ekstrak Belladona
b.      adstrigensia; akan menciutkan selaput lendir usus, contoh: tanin, garam-garam bismut, aluminium
c.       adsorbensia; akan menyerap zat-zat beracun yang dihasilkan bakteri ataupun dari makanan (contoh: karbo adsorben) , dan menutupi selaput lendir usus dan luka-luka dengan suatu lapisan pelindung (contoh: kaolin, pektin, garam bismut, aluminium)
3.      Spamolitik, yakni zat-zat yang dapat melepaskan kejang-kejang otot yang mengakibatkan nyeri perut pada diare. Contoh: Papaverin.
(Obat-Obat Penting, 2002).

            Diare menurut definisi Hippocrates adalah buang air besar dengan frekuensi yang tidak normal (meningkat), konsistensi tinja menjadi lebih lembek atau cair. Diare mengakibatkan terjadinya:
(1)   Kehilangan air dan elektrolit serta gangguan asam basa yang menyebabkan dehidrasi, asidosis metabolik dan hypokalemia.
(2)   Gangguan sirkulasi darah dapat berupa renjatan hipovolemik atau prarenjatan sebagai akibat diare dengan atau tanpa disertai dengan muntah, perpusi jaringan berkurang sehingga hipoksia dan asidosismetabolik bertambah berat, kesadaran menurun dan bila tak cepat diobati penderita dapat meninggal.
(3)   Gangguan gizi yang terjadi akibat keluarnya cairan yang berlebihan karena diare dan muntah. Kadang-kadang orang tuanya menghentikan pemberian makanan karena takut bertambahnya muntah dan diare pada anak atau bila makanan tetap diberikan dalam bentuk diencerkan. Hipoglikemia akan sering terjadi pada anak yang sebelumnya telah menderita malnutrisi atau bayi dengan gagal bertambah berat badan, sehingga akibat hipoglikemia dapat terjadi edema otak yang dapat menyebabkan kejang dan koma (Suharyono, 2008).
Antidiare adalah obat-obat yang digunakan untuk menanggulangi atau mengobati penyakit yang disebabkan oleh bakteri/kuman, virus, cacing atau keracunan makanan.

2.3 Escherichia Coli

Sebagian besar jenis E.coli tidak berbahaya dan merupakan bagian yang penting dari saluran cerna manusia yang sehat karena berfungsi menghasilkan vitamin K dan menjaga keseimbangan bakteri di usus. Namun, beberapa jenis E.coli(disebut E.coli patogenik) dapat menimbulkan penyakit infeksi, seperti infeksi pada kantung empedu, saluran kemih, selaput otak, paru, dan saluran cerna. Infeksi – infeksi tersebut tidak hanya dapat disebabkan oleh E.coli, namun dapat juga disebabkan bakteri jenis lain.

Sejarah

Escherichia coli (biasa disingkat E. Coli) merupakan salah satu jenis spesies utama bakteri gram negatif. Bakteri yang ditemukan oleh seorang bernama Theodor Escherich ini dapat ditemukan dalam usus besar manusia. Pada 1885, beliau menggambarkan organisme inisebagai komunitas bakteri coli (Escherich 1885) dengan membangunsegala perlengkapan patogenitasnya di infeksi saluran pencernaan. Nama “Bacterium Coli” sering digunakan sampai pada tahun 1991. Ketika Castellani dan Chalames menemukan genus Escherichia dan menyusun tipe spesies E. Coli.
Klasifikasi
Superdomain   : Phylogenetica
Filum               : Proterobacteria
Kelas               : Gamma Proteobacteria
Ordo                : Enterobacteriales
Family             : Enterobacteriaceae
Genus              : Escherichia
Species            : Escherichia Coli
Morfologi
E. Coli dari anggota famili Enterobacteriaceae. Ukuran sel dengan panjang 2,0 – 6,0 μm dan lebar 1,1 – 1,5 μm. Bentuk sel dari bentuk seperti coocal hingga membentuk sepanjang ukuran filamentous. Tidak ditemukan spora E. Coli batang gram negatif. Selnya bisa terdapat tunggal, berpasangan, dan dalam rantai pendek, biasanya tidak berkapsul.bakteri ini aerobic dan dapat juga aerobic fakultatif. E. Coli merupakan penghuni normal usus, seringkali menyebabkan infeksi.
E. Coli pada umumnya tidak berbahaya, namun E. Coli tipe O157 : H7, dapat mengakibatkan hal buruk seperti keracunan makanan serius pada manusia. Sehingga dapat menyebabkan diare. Salah sumber bakteri ini yaitu seperti pada daging yang belum masak, contohnya daging hamburger yang belum matang. Penyakit yang diakibatkan oleh bakteri E. coli timbul saat melepaskan racun yang dinamakan "Shiga" yang kemudian membuat penderitanya sakit. Adapun yang paling beresiko terkena serangan bakteri E. coli adalah Anak-anak dan orang-orang yang mengalami gangguan sistem kekebalan tubuh.
Penggunaan bakteri ini yaitu dalam teknologi rekayasa genetika, yang biasa digunakan sebagai vektor untuk menyisipkan gen-gen tertentu yang diinginkan untuk dikembangkan. Hal itu karena pertumbuhannya sangat cepat dan mudah dalam penanganannya.
Prinsip dasar teknologi rekayasa genetika adalah memanipulasi atau melakukan perubahan susunan asam nukleat dari DNA (gen) atau menyelipkan gen baru ke dalam struktur DNA organisme penerima. Gen yang diselipkan dan organisme penerima dapat berasal dari organisme apa saja. Pada proses rekayasa genetika organisme yang sering digunakan adalah bakteri Escherichia coli. Bakteri Escherichia coli dipilih karena rentang umur yang pendek, jumlah generasi yang banyak, susunan genetik bakteri lebih mudah dimodifikasi, lingkungan luar dapat dimodifikasi ekspresi gen, menghasilkan produk, hampir mendekati yang diinginkan (menyerupai insulin hasil sekresi β-pankreas) serta lebih ekonomis (Esha, 2011).
Menurut para ahli, E.Coli adalah sejenis dari bakteri yang dapat masuk ke dalam makanan, seperti makanan dari daging sapi dan sayuran. Saat menguraikan sisa-sisa makanan yang tidak terserap oleh sistem pencernaan tersebut, bakteri ini mengeluarkan gas yang berbau sangat menyengat yang sering kita kenal dengan kentut. Usus manusia dilengkapi dengan pertahanan tubuh untuk mempertahankan diri dari serangan bakteri lewat saluran pencernaan. Mulai suasana asam kuat di lambung yang bisa menghancurkan apa saja, termasuk bakteri pada umumnya, kemudian enzim-enzim yang juga secara biokimiawi bisa merusak bakteri yang masuk ke usus. Di bagian paling akhir, yakni di usus besar, terdapat berbagai macam bakteri, khususnya  E. coli. Fungsi E coli selain menutup permukaan usus besar agar bakteri patogen tidak ada tempat lagi untuk berada di usus, sehingga terus menuju ke luar melalui kotoran.  E. coli juga bisa menghasilkan bahan antibiotik, seperti Kolisin  yang bisa membunuh bakteri patogen lain. Selain itu, E. coli bersama bakteri lain mencerna makanan sisa yang ada di usus besar, sehingga oleh E. coli tersebut dihasilkan berbagai produk untuk dirinya, seperti asam amino, yang dibutuhkan pula oleh manusia. E. coli di dalam usus melakukan intervensi sedikit demi sedikit ke lapisan dinding usus, sehingga bagi manusia normal artinya keadaan tubuhnya dalam keadaan sehat, bisa menghasilkan kekebalan atau imunitas di lapisan usus, yang pada akhirnya bisa disumbangkan ke tubuh manusia secara keseluruhan dan kembali lagi ke usus (Homing Mechanism). Jadi E. coli berfungsi melatih sel-sel di dinding usus untuk memiliki pertahanan menghadapi serangan bakteri patogen lain. E. coli dalam tubuh manusia diketahui mengandung vitamin K12 dan mencegah tumbuhnya bakteri lain didalam usus. Industri-industri kimia juga bergantung amat besar pada bakteri ini dalam proses produksi, terutama fermentasi.






BAB III
PENUTUP

2.1  Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan tentang pemberian ekstrak daun beluntas terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia Coli dapat disimpulkan pemberian ekstrak daun beluntas menyebabkan terhambatnya pertumbuhan bakteri Escherichia Coli dan konsentrasi hambat minimal ekstrak daun beluntas yang paling efektif dalam menghambat total pertumbuhan bakteri Escherichia coli adalah 50 %. Daya hambat pertumbuhan bakteri tersebut merupakan antidiare. Atau dapat dikatakan daun beluntas bekerja secara in vitro menghambat bakteri Escherichia Coli yang merupakan penyebab diare.
2.2  Saran
Pada pembahasan pada tulisan ini perlu ditambahkan lebih banyak referensi agar data yang didapatkan lebih akurat. Sehingga pembahasan menjadi lebih akurat dan mudah dimengerti.





DAFTAR PUSTAKA

Ayu, A Rizki. 2012. Pengaruh Ekstrak Buah Sawo (Acharas zapota L.) terhadap Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli secara In Vitro. Skripsi S1. Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendididkan Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin.

Esha. (2011, 11 Maret). Pembuatan Insulin. (online).diakses. http://www.slideshare.net/khairullahamidhamd/pebuatan-nsulin./2011/11/04

Hairunnisa, Maya Febriana, Sri Amintarti, Aminuddin P.Putra (2015) PENGARUH EKSTRAK DAUN BELUNTAS (Pluchea indica (L) Less) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Escherichia coli. Jurnal Wahana-Bio Volume XIII Juni 2015.

Hariana, A. 2006. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Seri 1. Penebar Swadaya. Jakarta.

Menkes. 2011. Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor2406/Menkes/Per/XII/2011, Jakarta.

Suharyono. 2008. Diare Akut, Klinik dan Laboratorik Cetakan Kedua. Rineka Cipta. Jakarta

Tjay, T.H., Rahardja, K. 2002. Obat-obat Penting : Khasiat, Penggunaan, dan Efek-Efek Sampingnya. Edisi VI. Jakarta: Penerbit PT. Elex Media Komputindo.