EFEK
ANTIDIARE EKSTRAK DAUN BELUNTAS (Pluchea
Indica L) DAN PENGARUH PERTUMBUHAN BAKTERI Escherichia Coli
ATIDIARRHEAL
EFFECTS OF BELUNTAS (Pluchea Indica L)
LEAF EXTRACT AND BACTERIAL GROWTH EFFECT
Meida
Rizky Hidayati
Jl.
Kelapa Sawit 8 Bumi Berkat
Sungai
Besar Banjarbaru Kalimantan Selatan
Abstrak
Diare merupakan suatu penyakit infeksi usus yang ditandai dengan kondisi
rangsangan buang air besar yang terus menerus disertai keluarnya feses atau
tinja yang kelebihan cairan.
Pengobatan dengan cara tradisional atau alternative herbal lebih baik karena
jarang menimbulkan efek samping. Daun beluntas adalah salah satu cara tanaman
herbal yang digunakan sebagai antidiare. Karena sudah teridentifikasi kandungan
senyawa kimia yaitu fenol, tanin, alkaloid, steroid, dan minyak atsiri serta
antibakteri penyebab diare. Bakteri tersebut antara lain seperti Escherichia Coli, Staphylococcus
sp, Propionobacterium sp dan Corynebacterium. Maka dalam tulisan ini akan dibahas tentang efektivitas
ekstrak daun beluntas sebagai antidiare.
Kata kunci:
Beluntas (Pluchea Indica L),
Antidiare dan Escherichia Coli
Abstract
Diarrhea is an intestinal infectious
disease characterized by persistent bowel excitatory conditions accompanied by
the release of excess fluid feces or stools. Treatment with traditional or
alternative herbs is better because it seldom cause side effects. Beluntas leaf
is one way herbs used as antidiarrhea. Because it has been identified the
chemical compounds of phenol, tannin, alkaloids, steroids, essential oils and
antibacterial causes of diarrhea. Bacteria such as Escherichia coli, Staphylococcus sp, Propionobacterium sp and Corynebacterium. Then in this paper
will be discussed about effectiveness of beluntas leaf extract as
antidiarrheal.
Keywords: Beluntas (Pluchea Indica L), Antidiare and Escherichia Coli
I.
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Di
era globalisasi banyak penyakit yang sering dihadapi dan harus di tangani oleh
berbagai pihak. Macam – macam jenis penyakit mulai dari yang mematikan sampai
yang tidak mematikan dapat menginveksi tubuh. Penyakit tersebut bisa disebabkan
oleh virus, bakteri, parasit, dan lain sebagainya di muka bumi. Penyakit yang
disebabkan oleh virus contohnya seperti virus yang menyebabkan influenza atau
penyakit lainnya. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri yaitu pada bakteri Escherichia Coli yang dapat menyebabkan
diare.
Karena
permasalahan atas penyakit yang ada tersebut, maka dilakukan penemuan obat
untuk mengatasinya. Salah satunya adalah pada penyakit diare yang ternyata
dapat disembuhkan dengan ekstrak daun beluntas. Daun beluntas merupakan tanaman
herbal yang sering dijadikan sebagai pagar tanaman. Beluntas merupakan sejenis
tumbuhan semak yang dapat dijadikan sebagai jamu atau ramuan karena dapat
menghilangkan bau badan dan menghilangkan pegal linu. Sebagian orang
menggunakannya sebagai santapan sayuran atau bahan pangan yang direbus. Tanaman
beluntas dapat tumbuh di berbagai daerah sehingga memiliki berbagai macam nama
seperti luntas (Jawa), beluntas
(Madura), dan lain sebagainya.
Daun
beluntas memiliki kandungan senyawa seperti alkaloid, zat besi, tanin, dan lain
sebagainya. Senyawa alkaloid terdapat pada hampir setiap tumbuhan. Senyawa
tersebut berfungsi sebagai pelindung terhadap musuh seagai racun. Saat
menyantap tanaman yang mengandung senyawa alkaloid, dapat memberikan rasa pahit
dan seperti, yaitu saat menyantap daun beluntas. Cara menjadikan daun beluntas
sebagai obat, yaitu dengan meminum air rebusan daunnya. Daun tersebut dapat
menyembuhkan beberapa penyakit seperti batuk, panas, luka, serta diare.
Diare
merupakan penyakit yang sering menyerang khususnya anak – anak. Diare adalah
penyakit yang ditandai dengan terdapatnya kandungan air pada feces yang
menyebabkan encer. Diare ini dapat disebabkan oleh bakteri seperti Escherichia Coli (bakteri), virus,
parasite, kelainan pada usus (faktor tubuh), serta faktor lingkungan. Penyakit
ini dapat menyebabkan kematian jika berlangsung lama. Kematian yang disebabkan
oleh diare sering terjadi pada anak – anak, karena kekurangan gizi. Seseorang
yang terkena diare akan mengeluarkan feces dengan interval waktu yang relatif
pendek atau singkat.
Daun
beluntas yang memiliki efek antibakteri dan antimikroba dapat membunuh mikroba
yang menyebabkan diare. Menurut Menkes (2011) konsentrasi
hambat minimal adalah kadar konsentrasi terendah antimikroba yang mampu
menghambat tumbuh dan berkembangnya bakteri atau tidak menunjukkan adanya
pertumbuhan koloni bakteri pada medianya. Menurut
Hairunisa (2015) pada penelitiannya didapatkan kesimpulan pada pemberian
ekstrak daun beluntas menyebabkan terhambatnya pertumbuhan Escherichia Coli adalah 50 %.
B. Rumusan Masalah
Sesuai
dengan pemaparan yang ada di latar belakang tersebut, didapatkan rumusan
masalah:
1. Bagaimanakah
pengaruh pemberian ekstrak daun beluntas terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia Coli ?
2. Bagaimana
antidiare pada ekstrak daun beluntas?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan ini dilakukan adalah untuk membahas
tentang efek antidiare dari ekstrak daun beluntas terhadap diare yang
disebabkan oleh bakteri Escerichia Coli.
BAB
II
ISI
2.1
Pluchea Indica L (Beluntas)
Beluntas
(Pluchea Indica Less.) merupakan
salah satu jenis tanaman Indonesia yang biasa digunakan sebagai tanaman pagar
dan tanaman obat. Beluntas merupakan tanaman obat asli Indonesia yang daunnya
dapat digunakan sebagai obat dernam (diaforetikum) dengan cara direbus seperti
teh dan juga dapat digunakan untuk memperkuat urat syaraf dan sebagai obat
mandi. Hal ini disebabkan beluntas mengandung amino (leusin, isoleusin,
triptofan, treonin), alkaloid, flavonoida, minyak atsiri, asam chlorogenik,
natrium, kalium, aluminium, kalsium, magnesium, fosfor, besi, vitamin Adan C.Tanaman beluntas (Pluchea
indica Less.) merupakan salah satu tanaman yang pemanfaatannya belum digali
secara maksimal.
Deskripsi
Tanaman Beluntas
Sering dijumpai pada lingkungan yakni tanaman beluntas.
Tanaman beluntas adalah tanaman semak yang berkayu. Tanaman beluntas atau
luntas ini hidup di segala tempat. Bahasa latin beluntas adalah Pluchea
indica L. Less. Sedangkan dalam bahasa inggris tanaman beluntas ini
mempunyai nama Marsh fleabane. Ciri-ciri dan karakteristik beluntas
ini mempunyai daun yang bergerigi, agak kasar dan mempunyai harum yang khas.
Fungsi beluntas bagi sebagian orang digunakan untuk pagar beluntas di depan
rumah, campuran bahan makanan untuk pengolahan beluntas ini digunakan pada
makanan seperti keripik beluntas, sayur beluntas, botok beluntas dan lain-lain.
Kegunaan beluntas ini tidak hanya untuk itu saja namun tanaman beluntas ini
bisa di gunakan untuk obat herbal. Herbal beluntas tersebut digunakan untuk
mengobati berbagai macam penyakit yang ada di tubuh.
Klasifikasi
Tanaman Beluntas
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Asteridae
Ordo : Asterales
Famili : Asteraceae
Genus : Pluchea
Spesies : Pluchea indica (L.) Less.
Anatomi
dan Morfologi Tanaman Beluntas
Tanaman beluntas merupakan tanaman semak perdu kecil, tumbuh
tegak, dengan tinggi dapat mencapai 2 m. Batang beluntas berambut halus. Daun
beluntas berbentuk bulat telur, hijau muda, panjang daunnya dapat mencapai 2 -
9 cm, dengan struktur daun ujung lancip, letak berseling, berbau khas. Bunga
beluntas ini majemuk, bentuknya malai, keluar dari ketiak daun,
bercabang-cabang, berwarna putih kekuningan. Buah beluntas kecil, keras,
berwarna coklat, dengan warna biji coklat keputih - putihan. Habitat
beluntas hidup pada daerah dataran rendah dan dataran tinggi dengan ketinggian
1000 meter dari permukaan laut, dan dengan syarat pada daerah kering dengan
tanah yang agak keras dan berbatu, dengan intensitas cahaya
matahari yang cukup dan sedikit naungan Budidaya beluntas dengan cara
perbanyakan dengan biji dan stek.
Tanaman
beluntas atau dalam bahasa latin Pluceae
Indica L. merupakan tanaman yang dapat tumbuh di keadaan kering dengan
tanah yang keras dan berbatu. Tanaman ini tumbuh dapat mencapai 3 meter. Di
beberapa daerah, tanaman ini memiliki bermacam – macam sebutan, seperti
Baruntas (Sunda), Luntas (Jawa), Baluntas (Madura), Lamutasa (Makassar) dan
Lenabou (Timor). Di daerah asing di sebut dengan Luan Yi (China) dan Phatpai
(Vietnam) dan Marsh Fleabane (Inggris).
Sejauh ini tanaman obat tradisional
telah lama digunakan pada manusia, tetapi pemanfaatan tanaman obat tradisional
pada hewan belum seluas dan sepopuler penggunaannya pada manusia. Tanaman obat
tradisional dapat berfungsi sebagai feed
aditif alami untuk memperbaiki tampilan produksi ternak, mencegah
serangan penyakit dan mengurangi dampak lingkungan. Menurut Hariana (2006) menyatakan bahwa di dalam daun beluntas
(Pluchea indica less) mengandung beberapa kandungan kimia yaitu alkaloid,
minyak atsiri, dan flavonoid. Menurut Ayu
(2012) dalam penelitiannya pemberian ekstrak daun beluntas mempengaruhi
penurunan jumlah koloni bakteri Escherichia coli dari konsentrasi 0% sampai
konsentrasi 50% diduga karena bakteri Escherichia coli sudah mulai terganggu
hidupnya akibat pemberian ekstrak daun beluntas. Bakteri Escherichia coli diduga mengalami stress akibat perubahan
lingkungan yang merugikan bagi kehidupan bakteri.
Menurut beberapa para ahli
yang telah meneliti bahwa beluntas ini mempengaruhi pertumbuhan Escherichia Coli dan K. Pneumonia. Daun beluntas diketahui dapat digunakan sebagai obat berbagai penyakit
karena senyawa fitokimia yang ada di dalamnya. Dari hasil penelitian yang
lainnya juga telah menunjukkan kalau dengan menggunakan beluntas untuk
dijadikan sebagai terapi alami untuk mengobati penyakit infeksi saluran kemih.
Pada daun tanaman beluntas memiliki kandungan kimia dalam tanaman ini adalah
minyak atsiri, Alkaloid, Flavonoida, Tanin, Asam Chlorogenik, Natrium,
Aluminum, Kalsium, Magnesium, dan Fosfor. Sesuai dalam kandungan pada daunnya,
maka tanaman ini memili manfaat antara lain:
1.
Minyak Atsiri yang
tergandung merupakan penghambat pertumbuhan bakteri yang menyebabkan karies
pada gigi.
2.
Alkaloid merupakan senyawa
yang paling banyak di temukan pada tanaman khususnya daun. Senyawa ini membantu
tanaman untuk melindungi dirinya (racun) sehingga memberikan rasa pahit dan
asam. Senyawa ini dalam jumlah yang tepat, digunakan sebagai mengatasi gangguan
pencernaan pada anak – anak.
3.
Flavonoida merupakan
senyawa yang mudah larut dalam air dan sebagai antimikroba juga antivirus atau
antioksidan.
4.
Tanin merupakan senyawa
yang berperan dalam pendenaturasi protein serta mencegah proses pencernaan
bakteri. Senyawa ini juga dapat mengatasi masalah darah tinggi karena dapat
sebagai pengkhelat logam (zat besi) dalam darah.
2.2
Antidiare
Diare
merupakan suatu kondisi ditandai dengan keluarnya feses secara abnormal dalam
interval waktu yang sangat singkat (biasanya 3 kali sehari). Hal ini disebabkan
oleh beberapa faktor seperti, infeksi bakteri (Campylobacter dan Escherichia
coli), infeksi virus (rotavirus, Norwalk virus, cytomegalovirus, herpes simplex
virus, and virus hepatitis), intoleransi makanan, parasite (Giardia lamblia),
reaksi atau efek samping obat, gangguan intestinal, dan kelainan fungsi usus
besar. Kehilangan cairan atau elektrolit (ion Na+ dan K+) pada diare yang parah
menyebabkan penderita mengalami dehidrasi yang menyebabkan kematian pada kasus
ini.
Jenis diare
Berdasarkan lama kejadian diare
dibedakan 2 jenis diare yang menentukan obat antidiare yang akan digunakan.
1. Diare
akut
Awalnya,
fases yang keluar cair terjadi diikuti lemas, adanya gas, nyeri, seringkali
demam dan muntah. Umumnya diare akut reda/hilang dalam 72 jam. Penyebabnya oleh
infeksi bakteri seperti E.Coli, Shigella, Salmonella, virus dan amuba seperti
E. Histolytica. Dapat pula disebabkan oleh toksin bakteri seperti
staphylococcus aureus, dan Clostridium welchii yang mencemari makanan.
2. Diare
kronik
Keluarnya
fases yang tidak berbentuk, sering atau berulang dan biasanya disebabkan multifaktor.
berkaitan dengan berbagai gangguan dengan berbagai gangguan gastrointestinal,
ada pula diare yang berlatar belakang psikosomatik, alergi oleh makanan atau obat-obat
tertentu, disamping itu diare kronis ini dapat disebabkan oleh kelainan pada
sistem endokrin dan metabolisme, kekurangan vitamin dan sebagai akibat radiasi.
Mekanisme timbulnya
diare
Saat mikroba atau parasit masuk kedalam
tubuh, maka akan terjadi keracunan. Yang menyebabkan diare dan muntah,
disebabkan oleh pangan dan air yang terkontaminasi oleh mikroba. Secara klinis,
istilah diare digunakan untuk menjelaskan terjadinya peningkatan likuiditas
tinja yang dihubungkan dengan peningkatan berat atau volume tinja dan
frekuensinya.
Beberapa
patogen menstimulasi sekresi dari fluida dan elektrolit, seringkali dengan
melibatkan enterotoksin yang akan menurunkan absorpsi garam dan air dan/atau
meningkatkan sekresi anion aktif. Pada kondisi diare ini tidak terjadi gap
osmotic dan diarenya tidak berhubungan dengan isi.
Penggolongan Obat Anti Diare
1. Kemoterapeutika;
untuk terapi kausal yakni memberantas bakteri penyebab diare, cont:
antibiotika, sulfonamida, dan senyawa kinolon
2. Obstipansia;
untuk terapi simtomatis yang menghentikan diare dengan beberapa cara yaitu:
a. zat-zat
penekan perilstatik; akan memperlambat gerakan perilstatik pada usus sehingga
memberikan lebih banyak waktu untuk resorpsi air & elektrolit pada mukosa
usus, cont: Loperamida (derivat petidin), Atropin, Ekstrak Belladona
b. adstrigensia;
akan menciutkan selaput lendir usus, contoh: tanin, garam-garam bismut,
aluminium
c. adsorbensia;
akan menyerap zat-zat beracun yang dihasilkan bakteri ataupun dari makanan
(contoh: karbo adsorben) , dan menutupi selaput lendir usus dan luka-luka
dengan suatu lapisan pelindung (contoh: kaolin, pektin, garam bismut,
aluminium)
3. Spamolitik,
yakni zat-zat yang dapat melepaskan kejang-kejang otot yang mengakibatkan nyeri
perut pada diare. Contoh: Papaverin.
(Obat-Obat
Penting, 2002).
Diare
menurut definisi Hippocrates adalah buang air besar dengan frekuensi yang tidak
normal (meningkat), konsistensi tinja menjadi lebih lembek atau cair. Diare
mengakibatkan terjadinya:
(1)
Kehilangan air dan
elektrolit serta gangguan asam basa yang menyebabkan dehidrasi, asidosis
metabolik dan hypokalemia.
(2)
Gangguan sirkulasi darah
dapat berupa renjatan hipovolemik atau prarenjatan sebagai akibat diare dengan
atau tanpa disertai dengan muntah, perpusi jaringan berkurang sehingga hipoksia
dan asidosismetabolik bertambah berat, kesadaran menurun dan bila tak cepat
diobati penderita dapat meninggal.
(3)
Gangguan gizi yang terjadi
akibat keluarnya cairan yang berlebihan karena diare dan muntah. Kadang-kadang
orang tuanya menghentikan pemberian makanan karena takut bertambahnya muntah
dan diare pada anak atau bila makanan tetap diberikan dalam bentuk diencerkan.
Hipoglikemia akan sering terjadi pada anak yang sebelumnya telah menderita
malnutrisi atau bayi dengan gagal bertambah berat badan, sehingga akibat
hipoglikemia dapat terjadi edema otak yang dapat menyebabkan kejang dan koma
(Suharyono, 2008).
Antidiare adalah obat-obat yang
digunakan untuk menanggulangi atau mengobati penyakit yang disebabkan oleh
bakteri/kuman, virus, cacing atau keracunan makanan.
2.3 Escherichia
Coli
Sebagian besar jenis E.coli tidak berbahaya dan merupakan bagian
yang penting dari saluran cerna manusia yang sehat karena berfungsi
menghasilkan vitamin K dan menjaga keseimbangan bakteri di usus. Namun,
beberapa jenis E.coli(disebut E.coli patogenik) dapat menimbulkan penyakit infeksi, seperti
infeksi pada kantung empedu, saluran kemih, selaput otak, paru, dan saluran
cerna. Infeksi – infeksi tersebut tidak hanya dapat disebabkan oleh E.coli, namun dapat
juga disebabkan bakteri jenis lain.
Sejarah
Escherichia coli
(biasa disingkat E. Coli) merupakan salah satu jenis spesies utama bakteri gram
negatif. Bakteri yang ditemukan oleh seorang bernama Theodor Escherich ini dapat
ditemukan dalam usus besar manusia. Pada 1885, beliau menggambarkan organisme
inisebagai komunitas bakteri coli (Escherich 1885) dengan membangunsegala
perlengkapan patogenitasnya di infeksi saluran pencernaan. Nama “Bacterium
Coli” sering digunakan sampai pada tahun 1991. Ketika Castellani dan Chalames
menemukan genus Escherichia dan menyusun tipe spesies E. Coli.
Klasifikasi
Superdomain : Phylogenetica
Filum : Proterobacteria
Kelas : Gamma Proteobacteria
Ordo : Enterobacteriales
Family : Enterobacteriaceae
Genus : Escherichia
Species : Escherichia Coli
Morfologi
E. Coli dari
anggota famili Enterobacteriaceae. Ukuran sel dengan panjang 2,0 – 6,0 μm dan
lebar 1,1 – 1,5 μm. Bentuk sel dari bentuk seperti coocal hingga membentuk
sepanjang ukuran filamentous. Tidak ditemukan spora E. Coli batang gram
negatif. Selnya bisa terdapat tunggal, berpasangan, dan dalam rantai pendek,
biasanya tidak berkapsul.bakteri ini aerobic dan dapat juga aerobic fakultatif.
E. Coli merupakan penghuni normal usus, seringkali menyebabkan infeksi.
E. Coli pada umumnya tidak berbahaya,
namun E. Coli tipe O157 : H7, dapat mengakibatkan hal buruk seperti keracunan
makanan serius pada manusia. Sehingga dapat menyebabkan diare. Salah sumber
bakteri ini yaitu seperti pada daging yang belum masak, contohnya daging
hamburger yang belum matang. Penyakit yang diakibatkan oleh bakteri E. coli
timbul saat melepaskan racun yang dinamakan "Shiga" yang kemudian
membuat penderitanya sakit. Adapun yang paling beresiko terkena serangan bakteri
E. coli adalah Anak-anak dan orang-orang yang mengalami gangguan sistem
kekebalan tubuh.
Penggunaan
bakteri ini yaitu dalam teknologi rekayasa genetika, yang biasa digunakan
sebagai vektor untuk menyisipkan gen-gen tertentu yang diinginkan untuk
dikembangkan. Hal itu karena pertumbuhannya sangat cepat dan mudah dalam
penanganannya.
Prinsip dasar teknologi rekayasa genetika adalah memanipulasi
atau melakukan perubahan susunan asam nukleat dari DNA (gen) atau menyelipkan
gen baru ke dalam struktur DNA organisme penerima. Gen yang diselipkan dan
organisme penerima dapat berasal dari organisme apa saja. Pada proses rekayasa
genetika organisme yang sering digunakan adalah bakteri Escherichia coli. Bakteri Escherichia coli dipilih karena rentang umur yang
pendek, jumlah generasi yang banyak, susunan genetik bakteri lebih mudah
dimodifikasi, lingkungan luar dapat dimodifikasi ekspresi gen, menghasilkan produk,
hampir mendekati yang diinginkan (menyerupai insulin hasil sekresi β-pankreas)
serta lebih ekonomis (Esha, 2011).
Menurut
para ahli, E.Coli adalah sejenis dari bakteri yang dapat masuk ke dalam makanan, seperti makanan dari daging sapi dan
sayuran. Saat menguraikan
sisa-sisa makanan yang tidak terserap oleh sistem pencernaan tersebut, bakteri
ini mengeluarkan gas yang berbau sangat menyengat yang sering kita kenal dengan
kentut. Usus manusia dilengkapi dengan pertahanan tubuh untuk mempertahankan
diri dari serangan bakteri lewat saluran pencernaan. Mulai suasana asam kuat di
lambung yang bisa menghancurkan apa saja, termasuk bakteri pada umumnya,
kemudian enzim-enzim yang juga secara biokimiawi bisa merusak bakteri yang
masuk ke usus. Di bagian paling akhir, yakni di usus besar, terdapat berbagai
macam bakteri, khususnya E. coli. Fungsi E coli selain
menutup permukaan usus besar agar bakteri patogen tidak ada tempat lagi untuk
berada di usus, sehingga terus menuju ke luar melalui kotoran. E. coli juga
bisa menghasilkan bahan antibiotik, seperti Kolisin yang bisa membunuh
bakteri patogen lain. Selain itu, E. coli bersama bakteri lain
mencerna makanan sisa yang ada di usus besar, sehingga oleh E. coli tersebut dihasilkan berbagai
produk untuk dirinya, seperti asam amino, yang dibutuhkan pula oleh manusia. E. coli di dalam usus
melakukan intervensi sedikit demi sedikit ke lapisan dinding usus, sehingga
bagi manusia normal artinya keadaan tubuhnya dalam keadaan sehat, bisa
menghasilkan kekebalan atau imunitas di lapisan usus, yang pada akhirnya bisa
disumbangkan ke tubuh manusia secara keseluruhan dan kembali lagi ke usus
(Homing Mechanism). Jadi E. coli berfungsi melatih sel-sel di
dinding usus untuk memiliki pertahanan menghadapi serangan bakteri patogen
lain. E. coli dalam tubuh manusia diketahui mengandung vitamin
K12 dan mencegah tumbuhnya bakteri lain didalam usus. Industri-industri kimia
juga bergantung amat besar pada bakteri ini dalam proses produksi, terutama
fermentasi.
BAB
III
PENUTUP
2.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan
tentang pemberian ekstrak daun beluntas terhadap pertumbuhan bakteri
Escherichia Coli dapat disimpulkan pemberian ekstrak daun beluntas menyebabkan
terhambatnya pertumbuhan bakteri Escherichia Coli dan konsentrasi hambat
minimal ekstrak daun beluntas yang paling efektif dalam menghambat total
pertumbuhan bakteri Escherichia coli adalah 50 %. Daya hambat pertumbuhan bakteri
tersebut merupakan antidiare. Atau dapat dikatakan daun beluntas bekerja secara
in vitro menghambat bakteri Escherichia Coli yang merupakan penyebab diare.
2.2 Saran
Pada pembahasan pada tulisan ini
perlu ditambahkan lebih banyak referensi agar data yang didapatkan lebih
akurat. Sehingga pembahasan menjadi lebih akurat dan mudah dimengerti.
DAFTAR
PUSTAKA
Ayu, A Rizki. 2012. Pengaruh Ekstrak Buah Sawo (Acharas zapota
L.) terhadap Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli secara In Vitro. Skripsi
S1. Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendididkan
Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin.
Esha. (2011,
11 Maret). Pembuatan Insulin. (online).diakses.
http://www.slideshare.net/khairullahamidhamd/pebuatan-nsulin./2011/11/04
Hairunnisa, Maya
Febriana, Sri Amintarti, Aminuddin P.Putra (2015) PENGARUH EKSTRAK DAUN BELUNTAS (Pluchea indica (L) Less) TERHADAP PERTUMBUHAN
BAKTERI Escherichia coli. Jurnal Wahana-Bio Volume XIII Juni 2015.
Hariana, A. 2006. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Seri 1.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Menkes. 2011. Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor2406/Menkes/Per/XII/2011,
Jakarta.
Suharyono. 2008.
Diare Akut, Klinik dan Laboratorik
Cetakan Kedua. Rineka Cipta. Jakarta
Tjay, T.H., Rahardja,
K. 2002. Obat-obat Penting : Khasiat,
Penggunaan, dan Efek-Efek Sampingnya. Edisi VI. Jakarta: Penerbit PT. Elex
Media Komputindo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar